
Jakarta – Garam menjadi salah satu bumbu yang hampir selalu tersedia di dapur. Selain memberikan rasa asin, ternyata ada berbagai jenis garam yang memiliki karakteristik dan kegunaan berbeda. Kenali perbedaannya agar tidak keliru saat menggunakannya.
Selama ini, garam meja mungkin menjadi jenis yang paling familiar. Namun, ada pula garam laut, garam Himalaya, hingga kala namak atau garam hitam yang sering digunakan untuk kebutuhan kuliner tertentu.
Pakar nutrisi Lovneet Batra melalui unggahan di Instagram menjelaskan sejumlah jenis garam beserta karakteristik dan penggunaannya. Beberapa di antaranya juga mengandung mineral tertentu yang dibutuhkan tubuh.
Berikut jenis-jenis garam yang perlu diketahui, seperti dilansir dari foodndtv.
1. Garam Himalaya
Garam Himalaya mudah dikenali dari bentuk kristalnya yang berwarna merah muda atau pink. Garam ini berasal dari tambang garam Khewra di Pakistan, yang berada tidak jauh dari kawasan kaki Pegunungan Himalaya.
Warna khas tersebut berasal dari kandungan berbagai mineral di dalamnya, termasuk magnesium dan kalium.
Menurut Lovneet Batra, garam Himalaya dapat digunakan untuk memberikan rasa yang lebih kompleks pada makanan. Jenis garam ini juga mengandung sejumlah mineral, seperti magnesium, kalsium, dan kalium.
Dalam penggunaannya, garam Himalaya dapat menjadi alternatif penyedap sekaligus membantu memenuhi kebutuhan mineral. Namun, bukan berarti garam ini dapat menggantikan sumber mineral utama dari makanan bergizi.
2. Kala Namak atau Garam Hitam
Kala namak merupakan jenis garam yang populer dalam masakan India. Ciri khasnya adalah aroma sulfur atau belerang yang cukup kuat.
Dibandingkan garam biasa, kala namak memiliki cita rasa yang lebih khas dan dapat memberikan sensasi umami pada makanan. Karena rasanya cukup kuat, penggunaannya sebaiknya tidak terlalu banyak.
Garam hitam juga mengandung senyawa sulfur serta sejumlah mineral. Jenis garam ini kerap digunakan dalam masakan untuk memberikan karakter rasa tertentu dan secara tradisional dikaitkan dengan manfaat untuk pencernaan.
3. Garam Laut
Sesuai namanya, garam laut dibuat melalui proses penguapan air laut. Proses ini umumnya memanfaatkan panas matahari dan angin.
Karakteristik garam laut berbeda dari garam meja. Kristalnya cenderung lebih kasar dan rasanya dapat terasa lebih kompleks.
Garam laut bisa menjadi pilihan untuk memberikan cita rasa berbeda pada masakan. Namun, kualitas produk tetap perlu diperhatikan. Garam laut dengan kualitas rendah dapat memiliki risiko kontaminasi, termasuk jejak mikroplastik.
Selain itu, memilih garam laut bukan berarti otomatis membuat konsumsi garam menjadi lebih sehat. Jumlah garam yang dikonsumsi tetap perlu dibatasi.
4. Garam Meja
Garam meja merupakan jenis yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Teksturnya halus sehingga mudah larut dan bercampur secara merata ke dalam makanan.
Komponen utamanya adalah natrium klorida atau NaCl. Rasanya juga cenderung asin dan konsisten sehingga praktis digunakan untuk berbagai masakan.
Salah satu keunggulan garam meja adalah adanya produk yang telah difortifikasi dengan yodium. Asupan yodium berperan penting dalam menjaga fungsi tiroid dan mendukung proses metabolisme tubuh.
Meski demikian, garam meja bukan sumber mineral yang bisa diandalkan untuk memenuhi seluruh kebutuhan tubuh. Sebagian produk juga telah melalui proses pengolahan dan dapat mengandung bahan tambahan, seperti zat antikempal.
Karena itu, kebutuhan mineral sebaiknya tetap dipenuhi melalui makanan bergizi, misalnya sayuran hijau, brokoli, keju, dan alpukat.
Jangan Berlebihan Mengonsumsi Garam
Apa pun jenisnya, garam tetap perlu digunakan secara bijak. Mengonsumsi garam dalam jumlah terlalu banyak dapat meningkatkan asupan natrium yang kemudian berdampak pada tekanan darah dan kesehatan jantung.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan orang dewasa mengonsumsi garam kurang dari 5 gram per hari atau sekitar satu sendok teh.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kandungan yodium. Garam Himalaya, garam laut, maupun jenis garam khusus lainnya tidak selalu memiliki kandungan yodium yang cukup untuk menggantikan garam beryodium.
Jadi, memilih garam sebaiknya tidak hanya berdasarkan warna, bentuk, atau klaim kandungan mineralnya. Perhatikan pula kebutuhan tubuh, kualitas produk, serta jumlah yang digunakan dalam makanan.
Pada akhirnya, berbagai jenis garam dapat memberikan karakter rasa yang berbeda pada masakan. Namun, penggunaannya tetap perlu dibatasi agar tidak berlebihan.
