
Jakarta – Buah mungil berwarna merah yang dikenal dengan sebutan miracle fruit kembali menarik perhatian. Buah asal Afrika Barat ini disebut memiliki potensi membantu pasien kanker yang menjalani kemoterapi, terutama dalam mengatasi gangguan pengecapan yang kerap muncul selama pengobatan.
Dikutip dari Fox News, nama ilmiah buah tersebut adalah Synsepalum dulcificum. Sejak lama masyarakat Afrika Barat memanfaatkannya karena kemampuannya mengubah rasa makanan atau minuman yang asam menjadi terasa manis.
Kemampuan unik itu berasal dari protein alami bernama miraculin. Protein ini bekerja dengan memengaruhi reseptor pengecap di lidah sehingga persepsi rasa berubah untuk sementara waktu. Efek tersebut dinilai berpotensi membantu pasien kemoterapi yang mengalami perubahan rasa pada makanan.
Gangguan Pengecapan Sering Dialami Pasien Kemoterapi
Salah satu efek samping kemoterapi yang cukup sering terjadi adalah kondisi yang dikenal sebagai chemo mouth. Pada kondisi ini, makanan dapat terasa seperti logam, hambar, atau memiliki cita rasa yang tidak biasa.
Gangguan tersebut tidak hanya mengurangi kenikmatan saat makan, tetapi juga bisa menurunkan nafsu makan. Jika berlangsung lama, pasien berisiko mengalami penurunan berat badan hingga kekurangan asupan gizi.
Ahli onkologi dari Mount Sinai Medical Center di Miami, Dr. Mike Cusnir, mengatakan perubahan rasa sering kali dianggap sebagai keluhan ringan, padahal dampaknya terhadap kondisi pasien cukup besar.
Menurutnya, ketika semua makanan terasa tidak enak, pasien cenderung enggan makan. Akibatnya, berat badan menurun dan proses pemenuhan nutrisi menjadi terganggu selama menjalani terapi.
Miracle Fruit Dinilai Berpotensi Membantu
Dr. Cusnir mengungkapkan bahwa berbagai cara telah dicoba untuk mengurangi gangguan pengecapan, seperti memakai peralatan makan berbahan plastik atau menambahkan lebih banyak bumbu. Namun, hasilnya tidak selalu memuaskan.
Ia kemudian mengetahui miracle fruit dari salah seorang pasiennya. Buah tersebut mengandung miraculin yang mampu mengubah persepsi rasa selama kurang lebih 30 hingga 40 menit setelah dikonsumsi.
Tim peneliti kemudian melakukan studi berskala kecil untuk melihat potensinya. Hasil awal menunjukkan sekitar separuh peserta merasakan adanya perbaikan terhadap kemampuan mengecap makanan dan mengaku kualitas hidup mereka ikut meningkat.
Selain itu, sekitar 14 persen peserta dilaporkan mengalami kenaikan berat badan setelah mengonsumsi buah tersebut. Meski demikian, temuan tersebut masih bersifat pendahuluan sehingga belum dapat dijadikan kesimpulan umum.
Masih Memerlukan Penelitian Lebih Lanjut
Memorial Sloan Kettering Cancer Center juga menyebut bukti ilmiah mengenai manfaat miracle fruit hingga kini masih terbatas. Sejumlah penelitian menunjukkan hasil yang berbeda sehingga efektivitasnya belum dapat dipastikan.
Karena itu, penelitian dengan skala yang lebih besar masih diperlukan untuk mengetahui manfaat, keamanan, serta efektivitas buah ini bagi pasien kanker yang menjalani kemoterapi.
Dr. Cusnir turut mengingatkan agar pasien tidak langsung menjadikan miracle fruit sebagai terapi pendamping tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau tenaga kesehatan.
Menurutnya, apabila pasien dapat kembali menikmati makanan meski hanya sementara, hal tersebut bisa membantu memperbaiki kualitas hidup sekaligus membuat mereka lebih nyaman menikmati waktu makan bersama keluarga selama menjalani pengobatan.
