
Jakarta – Sarapan bukan sekadar waktu makan untuk mengisi energi pada pagi hari. Kebiasaan makan di awal hari juga berkaitan dengan bagaimana tubuh mengatur gula darah, insulin, energi, dan rasa lapar.
Karena kesibukan, sebagian orang memilih menunda atau bahkan melewatkan sarapan. Padahal, respons metabolisme tubuh terhadap makanan dapat berbeda tergantung waktu makan.
Dikutip dari Verywell Health, tidak sarapan dapat memicu sejumlah perubahan dalam tubuh. Efeknya tidak hanya terasa dalam bentuk lapar, tetapi juga dapat memengaruhi kadar gula darah setelah waktu makan berikutnya.
Berikut beberapa dampak yang dapat terjadi ketika seseorang sering melewatkan sarapan.
1. Tubuh Lebih Sulit Mengontrol Gula Darah
Melewatkan makan pagi dapat membuat kadar gula darah meningkat lebih tinggi ketika seseorang akhirnya makan. Salah satu mekanisme yang berkaitan dengan hal ini adalah second meal effect.
Sarapan dapat membantu tubuh merespons dan mengolah gula dengan lebih efektif pada waktu makan selanjutnya. Jika sarapan dilewati, efek tersebut bisa berkurang sehingga respons gula darah setelah makan siang menjadi lebih tinggi.
Kondisi ini berkaitan dengan bagaimana tubuh merespons asupan karbohidrat setelah periode tidak makan yang lebih panjang.
2. Rasa Lapar Bisa Meningkat
Tidak makan pada pagi hari tidak selalu berarti jumlah makanan yang dikonsumsi sepanjang hari menjadi lebih sedikit. Pada sebagian orang, rasa lapar justru dapat menjadi lebih kuat sehingga mendorong makan dalam jumlah lebih banyak.
Saat waktu makan dilewati, hormon ghrelin yang berkaitan dengan rasa lapar dapat meningkat. Keinginan terhadap makanan tertentu, termasuk makanan dengan karbohidrat sederhana, juga bisa muncul.
Jika akhirnya makan dalam porsi besar, lonjakan gula darah setelah makan dapat menjadi lebih tinggi. Bila kebiasaan ini berulang, pola tersebut dapat membentuk siklus antara melewatkan sarapan, rasa lapar berlebihan, dan makan lebih banyak.
3. Pelepasan Glukosa dari Hati Tetap Berlangsung
Meski belum makan, tubuh tetap membutuhkan energi untuk menjalankan berbagai fungsi. Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan cadangan glukosa yang disimpan di hati.
Pada pagi hari, hati secara alami melepaskan glukosa ke dalam aliran darah. Proses ini tetap terjadi ketika seseorang belum mengonsumsi makanan.
Karena tidak ada asupan dari makanan, pelepasan glukosa tersebut dapat berlangsung lebih lama. Akibatnya, kadar gula darah dapat tetap tinggi hingga pagi menjelang siang.
Kadar insulin yang lebih rendah selama kondisi puasa juga ikut berperan. Efek ini dapat menjadi lebih nyata pada orang yang mengalami resistensi insulin.
4. Sensitivitas Insulin Dapat Terpengaruh
Selain jenis makanan, waktu makan juga berkaitan dengan cara tubuh mengatur gula darah. Tubuh memiliki ritme sirkadian yang membantu mengatur berbagai proses metabolisme sepanjang hari.
Pada waktu yang lebih awal, insulin cenderung bekerja dengan lebih efektif. Karena itu, makan lebih awal dapat dikaitkan dengan kemampuan tubuh dalam mengelola gula darah yang lebih baik.
Sebaliknya, menunda waktu makan pertama dapat memengaruhi cara tubuh merespons karbohidrat. Hal ini menunjukkan bahwa pengaturan jadwal makan juga menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan.
5. Energi Bisa Menurun
Tidak semua orang langsung merasa lemas ketika melewatkan sarapan. Beberapa orang bahkan masih dapat berkonsentrasi dan beraktivitas seperti biasa selama beberapa waktu.
Namun, energi dapat menurun setelah tubuh mulai menggunakan cadangan yang tersedia. Rasa lelah atau lemas pun bisa muncul sebelum tiba waktu makan berikutnya.
Pada pagi hari, hormon kortisol secara alami berada pada tingkat yang relatif tinggi. Hormon ini membantu menjaga tubuh tetap waspada sekaligus berperan dalam meningkatkan kadar gula darah.
Ketika kadar kortisol kemudian menurun, perubahan energi dapat lebih terasa, terutama bagi orang yang tidak mendapatkan asupan makanan sejak malam sebelumnya.
Jangan Abaikan Pola Makan
Melewatkan sarapan sesekali tidak selalu menimbulkan masalah yang sama pada setiap orang. Namun, kebiasaan menunda makan secara terus-menerus dapat memengaruhi rasa lapar, energi, serta respons tubuh terhadap gula darah.
Karena itu, selain memperhatikan pilihan makanan, waktu dan pola makan secara keseluruhan juga penting untuk mendukung pengaturan gula darah dan kesehatan metabolisme.
