
Jakarta – Kopi hitam tanpa tambahan gula sering dianggap sebagai minuman yang relatif aman bagi kadar gula darah. Namun, respons tubuh terhadap kafein ternyata bisa berbeda pada setiap orang. Cara minum kopi, bahan tambahan, hingga waktu konsumsinya juga dapat memengaruhi respons gula darah.
Kadar glukosa memang secara alami mengalami peningkatan setelah seseorang makan. Karbohidrat yang dikonsumsi akan dipecah menjadi glukosa untuk digunakan sebagai sumber energi.
Menurut ahli gizi Kathleen Benson, CSSD, CPT, RDN, kondisi tersebut dapat berlangsung berbeda pada orang dengan resistensi insulin atau diabetes. Tubuh mereka tidak merespons insulin secara optimal sehingga kadar gula darah dapat meningkat lebih tinggi atau bertahan lebih lama.
Lantas, bagaimana dengan kopi? Apakah minuman berkafein ini juga dapat memicu kenaikan gula darah?
Dikutip dari EatingWell, berikut sejumlah hal yang perlu diperhatikan.
1. Kafein dapat memengaruhi respons gula darah
Secangkir kopi hitam tanpa gula umumnya tidak menyebabkan kenaikan gula darah yang signifikan pada sebagian orang. Namun, respons tersebut dapat berbeda tergantung sensitivitas tubuh terhadap kafein.
Kafein dapat merangsang pelepasan hormon tertentu yang memberikan sinyal kepada hati untuk melepaskan lebih banyak glukosa ke dalam aliran darah. Akibatnya, pada orang yang sensitif terhadap kafein, kadar gula darah bisa mengalami kenaikan sementara.
Menurut ahli Benson, efek tersebut tidak otomatis terjadi pada semua orang. Jumlah kopi yang diminum dan tingkat sensitivitas seseorang terhadap kafein ikut menentukan respons tubuh.
2. Tambahan gula justru lebih berpengaruh
Bukan hanya kopinya yang perlu diperhatikan. Bahan yang ditambahkan ke dalam minuman justru dapat memberikan pengaruh lebih besar terhadap gula darah.
Gula, sirup, dan beberapa jenis pemanis dapat dengan cepat menambah asupan karbohidrat sehingga menyebabkan kadar glukosa meningkat setelah minum kopi.
Sementara itu, sebuah penelitian yang dikutip EatingWell menemukan konsumsi beberapa cangkir kopi hitam setiap hari berkaitan dengan risiko diabetes tipe 2 yang lebih rendah. Namun, hubungan tersebut tidak bisa disamakan dengan kopi yang dipenuhi gula atau bahan pemanis.
Bagi yang terbiasa minum kopi manis, Benson menyarankan mengurangi jumlah gula secara bertahap. Stevia juga dapat menjadi alternatif bagi mereka yang ingin mengurangi penggunaan gula.
3. Jangan abaikan jenis krimer
Krimer juga perlu diperhatikan ketika membuat kopi. Produk krimer manis, terutama yang memiliki berbagai rasa, dapat mengandung gula tambahan yang berpotensi meningkatkan kadar glukosa.
Bahkan krimer berbahan susu dalam jumlah banyak tetap dapat memberikan pengaruh karena mengandung laktosa alami.
Untuk pilihan yang lebih ringan, Benson menyarankan penggunaan sekitar satu hingga dua sendok makan krimer tanpa pemanis. Susu nabati tanpa gula tambahan juga bisa digunakan sebagai alternatif.
4. Sebaiknya tidak minum kopi ketika perut kosong
Kebiasaan menyeruput kopi sebelum makan juga perlu dipertimbangkan, terutama bagi orang yang sensitif terhadap kafein.
Benson menyebut konsumsi kopi tanpa makanan pendamping dapat membuat respons hormon stres terhadap kafein lebih terasa. Ketika tidak ada asupan protein, lemak, atau serat dari makanan, tidak ada nutrisi yang membantu memperlambat respons tersebut.
Karena itu, kopi dapat dikonsumsi bersamaan dengan sarapan yang mengandung protein. Beberapa pilihannya antara lain telur orak-arik, Greek yogurt, atau cottage cheese dengan buah.
Menurut ahli Manaker, menambahkan sumber protein dalam sarapan dapat membantu menjaga respons glukosa agar lebih stabil.
5. Perhatikan sensitivitas tubuh terhadap kafein
Tidak semua orang memberikan respons yang sama setelah minum kopi. Pada individu tertentu, kafein dapat meningkatkan hormon stres seperti kortisol untuk sementara waktu.
Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kadar gula darah, terutama pada orang yang memang sensitif terhadap kafein atau sedang mengalami stres.
Jika setiap kali minum kopi kadar gula darah cenderung meningkat atau tubuh menunjukkan respons yang tidak nyaman, mengurangi asupan kafein dapat menjadi pilihan. Kopi rendah kafein atau tanpa kafein juga dapat dipertimbangkan.
Mencukupi kebutuhan air putih juga penting untuk menjaga hidrasi. Namun, jika seseorang memiliki diabetes atau masalah pengaturan gula darah, perubahan kebiasaan minum kopi sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing dan anjuran tenaga kesehatan.
Jadi, kopi hitam tidak selalu berarti buruk bagi gula darah. Yang perlu diperhatikan adalah respons tubuh terhadap kafein serta tambahan gula, sirup, dan krimer dalam minuman. Cara dan waktu minum kopi juga dapat menentukan bagaimana tubuh meresponsnya.
