
Jakarta – Warna kuning telur ternyata tidak selalu sama. Ada yang tampak kuning pucat, kuning cerah, hingga oranye pekat. Perbedaan tersebut bukan sekadar soal penampilan, tetapi dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama pola makan ayam yang menghasilkan telur.
Saat memecahkan telur, sebagian orang mungkin pernah menemukan kuning telur dengan warna yang berbeda dari biasanya. Menurut laporan Food & Wine, variasi warna tersebut memiliki penjelasan ilmiah dan tidak selalu berkaitan dengan kualitas ataupun kandungan gizinya.
Berikut penjelasannya.
1. Warna kuning telur memiliki rentang yang beragam
Richard Blatchford, PhD, menjelaskan bahwa warna kuning telur sebenarnya dapat bervariasi, mulai dari hampir putih hingga merah tua. Namun, warna yang sangat ekstrem jarang ditemukan pada telur yang dijual di pasaran.
Sebagian besar telur yang tersedia di supermarket maupun pasar memiliki kuning telur berwarna kuning terang hingga oranye muda. Di industri peternakan, warna kuning telur bahkan dinilai menggunakan skala khusus yang terdiri dari 16 tingkatan. Nilai terendah menunjukkan warna yang sangat pucat, sedangkan angka tertinggi menggambarkan warna oranye pekat.
2. Pakan ayam menjadi faktor utama
Menurut ahli Sunoh Che, warna kuning telur sangat dipengaruhi oleh jenis makanan yang dikonsumsi ayam. Kandungan pigmen alami seperti karotenoid dan xantofil dalam pakan berperan besar dalam menentukan intensitas warnanya.
Selain itu, jumlah jagung yang diberikan serta akses ayam terhadap rumput dan tanaman segar juga memengaruhi hasil akhirnya. Ayam yang dibiarkan mencari makan di padang rumput umumnya menghasilkan kuning telur dengan warna yang lebih cerah.
3. Setiap warna memiliki penyebab berbeda
Perbedaan warna kuning telur dapat memberikan gambaran mengenai pola makan ayam.
Jen Houchins, PhD, RD, Direktur Penelitian Nutrisi di Egg Nutrition Center, menjelaskan bahwa ayam petelur biasanya memiliki pola makan yang dirancang secara khusus oleh ahli nutrisi.
Kuning telur yang tampak pucat umumnya berasal dari ayam yang banyak mengonsumsi gandum, jelai, atau tepung jagung putih.
Sementara itu, warna kuning cerah hingga oranye muda biasanya dihasilkan oleh ayam yang memperoleh pakan berbahan dasar jagung atau alfalfa.
Apabila warnanya lebih pekat mendekati oranye, kondisi tersebut sering kali dipengaruhi oleh tambahan bahan alami seperti kelopak bunga marigold atau paprika merah pada pakannya. Warna oranye yang lebih gelap juga dapat muncul pada ayam yang bebas mencari makan sehingga memperoleh beragam tumbuhan dan serangga yang kaya pigmen alami.
4. Warna bukan penentu kandungan gizi
Meski banyak orang menganggap kuning telur yang lebih gelap lebih bergizi, anggapan tersebut tidak selalu benar.
Sunoh Che menjelaskan bahwa kadar vitamin A, D, E, dan K dalam telur lebih dipengaruhi oleh kualitas pakan, kesehatan ayam, usia, jenis, serta lingkungan tempat ayam dipelihara daripada warna kuning telurnya.
Ayam yang dipelihara secara bebas di padang rumput memang sering menghasilkan telur dengan kandungan omega-3 dan vitamin yang lebih tinggi karena pola makannya lebih beragam. Namun, hal tersebut tidak berarti semua telur berwarna oranye memiliki nilai gizi yang sama.
Di sisi lain, warna yang lebih pekat memang dapat menjadi petunjuk bahwa kandungan karotenoid di dalam telur lebih tinggi. Senyawa ini dikenal memiliki manfaat bagi kesehatan mata serta dikaitkan dengan penurunan risiko peradangan, diabetes, dan beberapa jenis kanker.
5. Kuning telur oranye sering dianggap lebih lezat
Selain tampilannya yang menarik, kuning telur berwarna oranye juga banyak disukai karena cita rasanya. Telur jenis ini umumnya berasal dari ayam yang memperoleh pakan berkualitas dan memiliki akses ke lingkungan alami.
Kandungan antioksidan, vitamin A, dan nutrisi lainnya yang lebih beragam dipercaya membuat tekstur kuning telur terasa lebih lembut, kaya rasa, dan creamy dibandingkan telur dengan warna yang lebih pucat. Meski demikian, warna kuning telur bukan satu-satunya faktor yang menentukan kualitas maupun manfaat telur bagi kesehatan.
