
Jakarta – Kopi selama ini dikenal sebagai minuman yang membantu meningkatkan energi berkat kandungan kafeinnya. Namun, penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Nature Communications menunjukkan manfaat kopi ternyata tidak hanya berasal dari zat tersebut.
Para ilmuwan menemukan bahwa kopi, baik yang mengandung kafein maupun versi tanpa kafein (decaf), dapat memengaruhi komposisi mikrobioma usus. Perubahan pada bakteri baik di saluran pencernaan ini kemudian dikaitkan dengan peningkatan suasana hati, penurunan stres, hingga fungsi kognitif yang lebih baik.
Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa manfaat kopi jauh lebih kompleks dibanding sekadar membantu seseorang tetap terjaga.
Dirangkum dari INC, berikut beberapa hasil penting dari penelitian tersebut.
1. Hubungan antara usus dan otak menjadi sorotan
Peneliti memusatkan perhatian pada gut-brain axis, yaitu sistem komunikasi dua arah antara mikrobioma usus dan otak.
Menurut peneliti utama John Cryan dari APC Microbiome Ireland, kopi merupakan minuman yang mengandung berbagai senyawa bioaktif, bukan hanya kafein.
Ia menjelaskan bahwa komponen-komponen tersebut mampu berinteraksi dengan bakteri usus, metabolisme tubuh, hingga mekanisme yang memengaruhi suasana hati.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kopi berkafein maupun tanpa kafein sama-sama memberikan efek biologis, meskipun mekanisme kerjanya dapat berbeda.
2. Penelitian melibatkan peminum kopi dan nonpeminum
Riset ini melibatkan 62 peserta yang terdiri dari kelompok peminum kopi rutin dan orang yang jarang mengonsumsi kopi.
Peserta yang terbiasa minum kopi terlebih dahulu diminta menghentikan kebiasaan tersebut selama dua minggu. Setelah masa jeda selesai, mereka kembali mengonsumsi kopi, baik versi berkafein maupun decaf, tanpa mengetahui jenis yang diberikan.
Selama penelitian berlangsung, para peserta menjalani berbagai evaluasi, mulai dari tes psikologis hingga analisis sampel urin dan feses untuk melihat perubahan pada mikrobioma usus.
Dari hasil pengamatan, konsumsi kopi dikaitkan dengan penurunan tingkat stres dan gejala depresi serta peningkatan konsentrasi, termasuk pada kelompok yang mengonsumsi kopi tanpa kafein.
3. Perubahan terjadi pada bakteri baik di usus
Analisis mikrobioma menunjukkan adanya peningkatan beberapa jenis bakteri yang dianggap bermanfaat, di antaranya Eggerthella sp. dan Cryptobacterium curtum.
Bakteri tersebut diduga memiliki peran dalam menjaga kesehatan saluran cerna sekaligus memengaruhi keseimbangan emosional melalui hubungan antara usus dan otak.
Temuan ini memperkuat teori bahwa perubahan pada mikrobioma dapat memberikan dampak terhadap kesehatan mental dan fungsi kognitif.
4. Manfaat kopi tidak hanya berasal dari kafein
Salah satu temuan paling menarik dari penelitian ini adalah kopi decaf tetap memberikan manfaat yang serupa pada sejumlah aspek kesehatan.
Para peneliti menduga efek tersebut berasal dari senyawa alami lain dalam kopi, seperti polifenol dan berbagai antioksidan, yang turut berperan dalam mendukung fungsi otak serta menjaga keseimbangan mikrobioma usus.
John Cryan menilai hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kopi berpotensi menjadi bagian dari pola makan sehat yang mendukung kesehatan pencernaan sekaligus fungsi otak.
Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa riset lanjutan masih diperlukan untuk memahami lebih jauh mekanisme hubungan antara kopi, mikrobioma usus, dan kesehatan mental. Untuk saat ini, temuan tersebut memberikan gambaran bahwa manfaat kopi tidak semata-mata ditentukan oleh kandungan kafeinnya, melainkan juga oleh berbagai senyawa bioaktif lain yang bekerja bersama di dalam tubuh.
