
Jakarta – Serangan militer Rusia ke sejumlah wilayah Ukraina kembali menimbulkan korban jiwa. Sedikitnya 13 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara sekitar 50 lainnya mengalami luka-luka akibat rentetan serangan yang terjadi pada Rabu (15/7/2026) waktu setempat.
Konflik yang telah berlangsung lebih dari empat tahun sejak invasi Rusia terus menunjukkan eskalasi. Dalam beberapa bulan terakhir, intensitas serangan dari kedua pihak meningkat dan berdampak besar terhadap warga sipil.
Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan mencatat Juni 2026 sebagai periode dengan jumlah korban sipil tertinggi di Ukraina sejak April 2022.
Salah satu serangan terbaru menghantam fasilitas industri dan layanan kesehatan di Kota Odesa, kawasan pesisir Laut Hitam, serta Kota Sumy yang berada di dekat perbatasan Rusia.
Gubernur Sumy, Oleg Grygorov, mengatakan pasukan Rusia meluncurkan enam bom udara berpemandu ke wilayah tersebut. Akibatnya, tiga orang meninggal dunia dan sedikitnya 17 lainnya mengalami luka-luka.
Ia menyebut dua korban yang telah teridentifikasi merupakan seorang perempuan dan seorang laki-laki. Sementara satu korban lain mengalami luka sangat parah sehingga identitasnya belum dapat dipastikan.
Di sisi lain, Odesa kembali menjadi sasaran serangan rudal dan drone Rusia. Menurut Gubernur Oleg Kiper, wilayah tersebut telah mengalami serangan berturut-turut selama lima hari yang menyasar pelabuhan serta berbagai infrastruktur sipil.
Serangan di Odesa mengakibatkan tiga orang tewas dan sedikitnya delapan lainnya terluka.
Korban juga dilaporkan jatuh di sejumlah wilayah lain. Di Mykolaiv, satu orang meninggal dunia. Sementara di Ukraina timur, satu korban tewas dilaporkan di Kryvyi Rih dan dua lainnya di Donetsk, wilayah yang sebagian besar masih berada di bawah kendali pasukan Rusia.
Sementara itu, layanan penyelamatan Ukraina melaporkan tiga orang tewas dan 15 lainnya mengalami luka akibat serangan Rusia di wilayah Zaporizhzhia.
Dalam beberapa bulan terakhir, Rusia disebut semakin meningkatkan intensitas serangan terhadap kota-kota di Ukraina, sehingga jumlah korban sipil terus bertambah seiring berlanjutnya konflik bersenjata di kawasan tersebut.
